Dua Bulan Berlatih Keras, Siswa SMAN 1 Kedungpring Raih Juara 3 IBCA MMA Jawa Timur

Kedungpring– Kerja keras dan ketekunan Ahmad Jovan Aditya Pratama berbuah prestasi. Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kedungpring tersebut berhasil meraih juara 3 kategori usia dalam Kejuaraan Provinsi IBCA MMA Se-Jawa Timur Sirkuit 3 Kota Blitar, yang digelar pada 17–20 September 2026 di GOR Soekarno Hatta, Kota Blitar.

Kejuaraan yang diselenggarakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur melalui bidang olahraga IBCA MMA tersebut mempertemukan atlet-atlet bela diri campuran dari berbagai daerah di Jawa Timur. Bagi Jovan, ajang ini menjadi pengalaman penting sekaligus pembuktian atas proses latihan intensif yang dijalaninya selama kurang lebih dua bulan.

IBCA MMA merupakan singkatan dari Indonesia Beladiri Campuran Amatir-Mixed Martial Arts, sebuah organisasi resmi di Indonesia yang mewadahi dan membina atlet seni bela diri campuran. Organisasi ini berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan berperan dalam pembinaan atlet bela diri campuran amatir agar memiliki kesiapan untuk melangkah ke jenjang profesional hingga kompetisi internasional.

Jovan merupakan siswa pindahan yang mulai menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Kedungpring pada kelas XI. Di luar aktivitas akademik, ia memiliki ketertarikan terhadap olahraga bela diri. Ketertarikan tersebut kemudian membawanya menekuni IBCA MMA dan menjalani latihan secara intensif.

Hampir setiap hari, latihan dijalaninya sepulang sekolah hingga malam. Bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik, Jovan ditempa melalui latihan menyeluruh yang mencakup teknik pukulan, tendangan, hingga bantingan.

“Latihannya sangat berat karena harus melatih fisik secara keseluruhan, mulai dari tendangan, pukulan, dan bantingan,” ujar Jovan.

IBCA MMA memiliki karakteristik yang berbeda dengan olahraga bela diri seperti kickboxing. Atlet dituntut menguasai berbagai teknik sekaligus mampu membaca situasi pertandingan dan menentukan strategi dalam waktu singkat. Meski demikian, setiap kelas pertandingan tetap memiliki aturan yang wajib dipatuhi oleh peserta, termasuk larangan melakukan serangan ke bagian kepala pada kategori yang diikuti Jovan.

Jovan turun pada nomor stand fight U-16–17. Ia mengikuti dua kategori pertandingan, yakni kategori sesuai usia dan kategori kompetisi campuran. Pada kategori campuran, langkah Jovan terhenti setelah harus mengakui keunggulan peserta asal Pacitan.

Sementara itu, pada kategori usia, Jovan mampu melaju hingga perebutan posisi ketiga. Setelah menghadapi peserta asal Madiun, ia berhasil mengamankan juara 3.

Menurut Jovan, tantangan terbesar dalam pertandingan bukan semata-mata menghadapi lawan secara fisik. Atlet juga dituntut untuk tetap berpikir jernih di tengah tekanan pertandingan.

“Yang sulit adalah kita harus berpikir di dalam ring, mengatur strategi penyerangan dan penangkisan,” katanya.

Pengalaman bertanding tersebut sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi Jovan. Dalam pertandingan, ia sempat melakukan kesalahan dengan melancarkan pukulan ke bagian kepala, padahal teknik tersebut dilarang dalam kategori yang diikutinya. Kesalahan itu menjadi pengingat bahwa penguasaan teknik harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap aturan pertandingan.

Bagi Jovan, bela diri bukan sekadar tentang siapa yang paling kuat. Di dalamnya terdapat disiplin, kendali diri, strategi, dan sikap sportif yang harus dijaga. Ia pun memegang prinsip bahwa kemampuan bertarung harus digunakan pada tempat dan situasi yang tepat.

Prestasi di Blitar menjadi pijakan bagi Jovan untuk terus mengasah kemampuan. Ia menyadari masih banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama dalam membaca pertandingan, mengontrol emosi, serta memahami strategi dan regulasi pertandingan secara lebih matang.

Ia pun memiliki pesan bagi para atlet muda yang sedang menjalani proses latihan.

“Teruslah berlatih sampai sejati yang terkuat. Jangan menyerah dalam kondisi apa pun. Di dalam ring harus tetap bersabar dan berpikir jernih,” pesannya.

Capaian Jovan menunjukkan bahwa sebuah prestasi tidak lahir secara instan. Di balik sebuah medali terdapat proses latihan yang panjang, kedisiplinan, keberanian menghadapi tantangan, serta kemauan untuk belajar dari setiap kesalahan. Bagi SMA Negeri 1 Kedungpring, torehan tersebut menjadi bagian dari kiprah siswa dalam mengembangkan potensi dan prestasi di bidang olahraga. (Evie/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Siswa Siswi SMA Negeri 1 Kedungp...
Tes Kemampuan Akademik

Prestasi

Kick Boxing

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman