Kedungpring– Menjajal kelas baru dalam olahraga aeromodeling bukan perkara mudah. Hal itu dirasakan dua atlet SMA Negeri 1 Kedungpring (SMAKED), Mohammad Endik Kuswantoro dan Tanisha Bilge, saat mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda) dan Kejuaraan Terbuka (Kejurka) Aeromodeling di Kelurahan Kepanjen Lor, Kabupaten Blitar, pada 4–5 September 2026.
Keduanya turun pada kelas F1N, nomor penerbangan pesawat model yang memiliki karakter berbeda dibandingkan kelas aeromodeling yang selama ini lebih familiar. Kelas ini menggunakan pesawat berbahan kombinasi styrofoam dan polyfoam yang dirancang khusus untuk diterbangkan di dalam ruangan (indoor).
Secara internasional, F1N merupakan salah satu klasifikasi resmi dalam olahraga aeromodeling yang ditetapkan oleh FAI (Fédération Aéronautique Internationale) atau Federasi Aeronautika Internasional. Organisasi yang berbasis di Lausanne, Swiss, tersebut menjadi federasi internasional yang menaungi berbagai cabang olahraga dan kegiatan aeronautika, termasuk olahraga aeromodeling.
Di Jawa Timur, kelas F1N tergolong masih sangat baru. Kondisi tersebut membuat para atlet tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus cepat beradaptasi dengan karakter pesawat dan pola penerbangan yang berbeda dari kelas yang telah lebih dahulu dikenal.
Kejuaraan yang diselenggarakan KONI Jatim tersebut diikuti atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dalam ajang yang berlangsung di lokasi dan waktu yang sama itu, para peserta berkesempatan bersaing dalam kategori Kejurda maupun Kejurka.
Bagi Endik dan Tanisha, persiapan menuju kompetisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Keduanya hanya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk berlatih secara khusus menghadapi kelas F1N. Waktu tersebut terbilang singkat untuk menguasai teknik penerbangan indoor yang memiliki karakter sangat berbeda dari penerbangan di ruang terbuka.
Latihan rutin dilakukan di gedung olahraga Kecamatan kedungpring. Namun, minimnya waktu persiapan membuat proses adaptasi harus dilakukan dengan cepat.
“Lawan latihan sudah lebih lama berlatih. Jadi, persiapannya memang cukup singkat karena kelas ini juga masih baru,” ujar Endik.
Menurutnya, perbedaan teknik antara penerbangan indoor dan outdoor cukup signifikan. Pada penerbangan luar ruangan, pesawat biasanya dipegang pada bagian samping kiri wing, kemudian dilempar dari posisi bawah menuju kiri atas.
Sementara itu, pada kelas F1N, pesawat dipegang dari bagian bawah wing. Area untuk memegang pesawat pun sangat kecil sehingga membutuhkan ketepatan dan kontrol yang lebih tinggi sejak awal peluncuran.
Perbedaan teknik tersebut membuat atlet harus mengubah kebiasaan yang telah terbentuk dari latihan penerbangan outdoor.
Tantangan lain muncul dari kondisi arena pertandingan. Karena diterbangkan di dalam ruangan, ruang gerak pesawat menjadi jauh lebih terbatas. Keberadaan penonton di sekitar arena juga menambah tekanan tersendiri bagi atlet.
Pesawat harus dikendalikan dengan presisi agar tidak menabrak dinding atau objek lain di dalam ruangan. Atlet juga harus cepat menentukan kapan pesawat harus berbelok. Salah dalam pijakan dan lemparan dapat membuat arah terbang melenceng.
Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran, terutama bagi atlet yang baru pertama kali merasakan atmosfer pertandingan F1N. Rasa takut pesawat menabrak atau kurang tepat saat melakukan belokan menjadi bagian dari tantangan mental yang harus dihadapi selama penerbangan.
Meski menghadapi keterbatasan persiapan dan persaingan dengan atlet yang memiliki jam terbang lebih panjang, Mohammad Endik Kuswantoro tetap mampu menunjukkan perjuangan. Endik mengikuti Kejurda sekaligus Kejurka pada kelas F1N. Dari dua kejuaraan tersebut, ia berhasil meraih prestasi pada Kejurda di peringkat 3.
Sementara itu, Tanisha Bilge juga mengikuti kedua kejuaraan tersebut. Namun, kali ini Tanisha harus bersabar karena belum berhasil membawa pulang medali.
Di sisi lain, Maulana Bima Bimantara, pelatih aeromodelling yang tidak hanya mendampingi kedua atlet SMAKED, tetapi juga turun sebagai peserta kategori umum, berhasil menunjukkan hasil positif. Ia meraih Juara I Kejurda dan Juara II Kejurka.
Hasil tersebut menjadi pengalaman penting bagi tim SMAKED dalam memahami karakter kelas F1N. Apalagi, nomor ini baru mulai diterapkan di Jawa Timur sehingga para atlet masih memiliki ruang yang luas untuk terus mengembangkan teknik dan pengalaman bertanding.
Bagi Endik dan Tanisha, kejuaraan di Blitar bukan sekadar persoalan menang atau kalah. Kompetisi tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh kelas F1N sekaligus mengukur kemampuan mereka menghadapi nomor yang masih terbilang baru.
Dengan waktu latihan yang lebih panjang dan kesempatan bertanding yang semakin banyak, pengalaman pertama di Blitar diharapkan menjadi modal bagi keduanya untuk tampil lebih matang pada kejuaraan berikutnya. (Evie/Red)




