Kedungpring — Suasana halaman SMA Negeri 1 Kedungpring pada Jumat (29/05/2026) tampak berbeda dari biasanya. Ratusan siswa kelas X mengenakan kain ihram dan mukena mengikuti rangkaian kegiatan manasik haji yang digelar sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter, penguatan spiritual, serta pembelajaran praktik ibadah secara langsung. Lantunan kalimat talbiyah pun berkumandang di seluruh penjuru sekolah, menghadirkan nuansa religius yang khusyuk dan menyentuh.
Kegiatan manasik haji tersebut menjadi agenda wajib tahunan bagi siswa kelas X dan telah rutin dilaksanakan selama 10 tahun terakhir. Selain dikenal sebagai jenjang pembentukan disiplin dan ketahanan fisik melalui kegiatan kesamaptaan, SMA Negeri 1 Kedungpring juga berupaya menanamkan pondasi keimanan agar siswa memiliki keseimbangan antara kekuatan jasmani dan spiritual.
Kepala SMA Negeri 1 Kedungpring, Wantono Gono Putro, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan manasik haji merupakan salah satu bentuk ikhtiar sekolah dalam memperkenalkan sekaligus menanamkan pemahaman tentang rukun Islam kelima sejak dini kepada para siswa.
“Sebagai upaya memantapkan keimanan, kita mengenalkan ibadah haji kepada siswa. Dengan mengetahui tata cara ibadah haji dan menghafal doa-doanya sejak dini, mereka bisa memahami lebih awal sehingga niat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima semakin kuat,” ujarnya.
Pelaksanaan manasik dimulai dengan pembacaan niat yang dipimpin langsung oleh Ketua Pelaksana Manasik Haji, Drs.Sukiyono. Selanjutnya, para siswa menjalani simulasi berbagai rangkaian ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah yang ditempatkan di area parkir sekolah, simulasi bermalam di Mina, lempar jumrah, sa’i, hingga tawaf mengelilingi miniatur Ka’bah yang telah dipersiapkan panitia.

Sepanjang prosesi berlangsung, gema talbiyah terus dilantunkan para peserta, menciptakan suasana seolah berada di Tanah Suci. Untuk menghadirkan suasana yang menyerupai pelaksanaan ibadah haji sesungguhnya, peserta laki-laki mengenakan kain ihram, sedangkan peserta perempuan memakai mukena. Seluruh perlengkapan dan lokasi simulasi juga ditata sedemikian rupa agar siswa dapat memahami setiap tahapan ibadah secara lebih nyata dan mendalam.
Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Salah seorang siswa, Marshanda Meisya Lilian, mengaku senang dapat mengikuti praktik manasik haji tersebut.
“Saya sangat senang dengan kegiatan ini. Saya berharap, meski hanya praktik manasik haji di sekolah, nanti saya benar-benar bisa diundang Allah ke rumah-Nya,” ungkapnya penuh harap.
Hal senada juga disampaikan Jihan Shofiyah. Menurutnya, kegiatan manasik memberikan pengalaman baru sekaligus gambaran tentang beratnya pelaksanaan ibadah haji yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.
“Ternyata menyelesaikan rukun Islam kelima itu sangat berat. Butuh fisik yang kuat. Saya baru tahu dari kegiatan manasik ini,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 1 Kedungpring berharap para siswa tidak hanya memahami teori ibadah haji, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai spiritual, kedisiplinan, kesabaran, serta semangat beribadah dalam kehidupan sehari-hari. (Evie/Red)




