Malam itu, langit Jakarta berkilau oleh cahaya lampu kota, memantulkan gemerlap yang seolah turut merayakan setiap detik penuh haru di Hotel Mercure, Jakarta (Kamis, 30/10/2025).
Di dalam aula besar yang megah, lampu sorot menari-nari di atas panggung, menyambut langkah-langkah gugup para finalis. Suara jantung berdebar berpadu dengan denting musik penghantar acara, membentuk orkestra emosi yang tak bisa diurai dengan kata-kata.
Dari ribuan mimpi yang terkumpul, hanya segelintir yang bertahan hingga malam puncak itu. Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Dikmen 2025, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, telah mengumpulkan 2.704 peserta dari seluruh penjuru negeri. Namun hanya 337 siswa yang mampu melangkah ke panggung final.
Selama tiga hari, para finalis mengukir perjuangan dengan tinta semangat. Senin (27/10/2025) menjadi ajang adu gagasan di tahap presentasi, Selasa dan Rabu menjelma menjadi pesta ide di stand expo, di mana kreativitas berpadu dengan keberanian.
Di antara mereka, berdiri dua tim dari SMA Negeri 1 Kedungpring, Lamongan, sekolah yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, namun kaya akan mimpi dan dedikasi.
Tim pertama diwakili oleh Salsabila Chintya Sari dan Antika Anindita, yang berkompetisi di bidang Perencanaan Usaha Wirausaha Sosial. Tim kedua, Arfisazula Nur Kirana dan Ira Dwi Nurjanah, turut berjuang di bidang Pengembangan Usaha Kuliner.
Namun malam itu, panggung megah seolah memilih untuk bersinar paling terang bagi Salsabila dan Antika. Saat pembawa acara menyebut nama mereka sebagai Juara 1 Nasional FIKSI Dikmen 2025, seketika ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan yang panjang. Tangis haru pecah, bersamaan dengan senyum yang tak lagi mampu disembunyikan.

Mereka berhasil menyingkirkan ribuan pesaing dari seluruh Indonesia dengan karya berjudul “NATURAZZLE: Mainan Edukatif dari Tanaman Enceng Gondok yang Ramah Lingkungan untuk Meningkatkan Problem Solving Anak Usia Dini.” Karya yang bukan hanya cerdas, tetapi juga mengandung kehangatan nilai kemanusiaan.
Antika, dengan mata berkaca-kaca, mengenang awal mula ide itu lahir.
“Saya melihat banyak sekali tumbuhan enceng gondok di Desa Blawirejo yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Padahal, di desa kami banyak ibu rumah tangga dan anggota karang taruna yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Di sisi lain, anak-anak usia dini membutuhkan mainan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir. Dari situlah kami berinovasi menciptakan NATURAZZLE.”
Mainan edukatif dari enceng gondok yang ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat.
Karya itu lahir dari kepekaan sosial dan cinta lingkungan, sesuatu yang jarang dijumpai di usia semuda mereka.
Di sudut ruangan, Dwi Ita Agustina, S.Pd., M.Pd., dan Endang Setyowati Mas’ula, S.Pd. pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Kedungpring, tak mampu menahan air mata haru.
“Alhamdulillah, ini pencapaian yang luar biasa. Ajang FIKSI Dikmen 2025 termasuk salah satu kompetisi paling bergengsi di tingkat nasional. Kami sangat bersyukur, perjuangan panjang siswa-siswi kami akhirnya terbayar dengan hasil yang membanggakan.” Ujar Ita.
Endang menambahkan Semua ini tak lepas dari dukungan penuh Bapak Kepala Sekolah, Bapak Wantono Gono Putro, S.Pd., M.Pd., yang selalu memberikan ruang, fasilitas, dan semangat untuk setiap karya anak-anak kami. Tanpa dukungan beliau, karya sebesar ini mungkin tak akan pernah sampai di panggung nasional.
Lampu panggung meredup, meninggalkan jejak cahaya lembut di wajah para pemenang. Di tangan mereka, medali emas yang berkilau itu bukan sekadar logam dingin, melainkan simbol dari doa, air mata, dan kerja keras yang menghidupkan mimpi.
Dan malam itu, Jakarta menjadi saksi bahwa dari sebuah desa bernama Kedungpring, lahir ide besar yang mampu menembus batas, mengajarkan bahwa ilmu dan kasih bisa bersatu, dan bahwa cahaya kemenangan sesungguhnya tidak hanya datang dari lampu panggung tetapi dari hati yang tak pernah berhenti percaya.





One Response
Mantap lanjutkan