KARAWITAN MAYANGSARI

Eksul Karawitan SMAN 1 Kedungpring, Kabupaten Lamongan tampil di sebuah acara pelepasan siswa kelas XII

Memetik Nada Tradisi, Menggema Bersama Harmoni Zaman

Di tengah riuhnya dunia musik modern, ada sekelompok siswa di SMAN 1 Kedungpring yang setia memetik nada-nada warisan leluhur. Mereka adalah bagian dari Karawitan Mayangsari, sebuah ekstrakurikuler musik tradisional yang sejak 2018 telah menjadi nafas budaya di lingkungan sekolah.

Berdiri atas inisiatif Ibu Kaneko Aline, Karawitan Mayangsari lahir bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai simbol pelestarian kearifan lokal yang penuh warna. Dengan hanya berbekal dua set gamelan pelog dan slendro langkah pertama Karawitan Mayangsari terasa sederhana, namun penuh semangat.

Ibu Kaneko, yang saat itu menggagas eksistensi musik tradisional di sekolah, tak sendiri. Ia menggandeng seorang alumni sekaligus dalang wayang kulit, Arif Kurniawan, untuk didapuk sebagai pelatih utama. Dari tangan dingin mereka, 12 siswa kelas XI berhasil dirangkul menjadi generasi pertama yang mewarnai perjalanan Karawitan Mayangsari.

Seiring berjalannya waktu, Ibu Kaneko mendapatkan mandat baru untuk memfokuskan perhatiannya sebagai pelatih tari. Tongkat pembina karawitan pun berpindah ke tangan Ibu Evie Rakhmalia, yang melanjutkan semangat membumikan seni tradisi di kalangan pelajar.

Di bawah bimbingannya, Karawitan Mayangsari terus menunjukkan perkembangan yang signifikan bukan hanya dari jumlah anggota, tetapi juga perlengkapan. Tambahan alat, seperti kendang sunda, tamborin, hingga sound portable, menjadi bukti nyata bahwa musik tradisional bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Puncak eksistensi Karawitan Mayangsari tak hanya berhenti pada peningkatan internal. Pada tahun 2022 dan 2023, kolaborasi fenomenal dengan Smaked Music Community (SMC) dan Paduan Suara Gita Gempita yang dibina oleh Bapak Afif Fadlul Rokhman melahirkan kelompok lintas genre yang diberi nama Etnic Confussion.

Penampilan kolaborasi Karawitan Mayangsari dan Smaked Music Community dalam acara pelepasan Siswa Kelas XII tahun 2024 foto: dokumen smaked

Melalui perpaduan antara gamelan dan instrumen modern, mereka membawakan aransemen unik seperti “Anoman Obong” dan medley “Lamunan” dalam acara pelepasan siswa kelas XII. Kolaborasi ini membuktikan bahwa musik tradisional tidak harus kaku namun bisa luwes, berbaur, dan tetap memukau.

Puncak pengakuan terhadap Karawitan Mayangsari hadir pada tahun 2024, saat mereka mendapat undangan resmi dari Pemerintah Kecamatan Kedungpring untuk mengisi acara pembukaan Pagelaran Wayang Kulit di Balai Desa Kecamatan Kedungpring. Undangan tersebut menjadi bukti bahwa eksistensi Karawitan Mayangsari telah melampaui sekadar kegiatan sekolah dan telah menjadi bagian dari denyut kebudayaan lokal.

Karawitan Mayangsari bukan sekadar ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler ini adalah ruang belajar, tempat berekspresi, dan pelestarian budaya. Dalam setiap denting gamelan, terselip semangat untuk menjaga identitas budaya.

Selama masih ada siswa yang bersedia menabuh gong dan memukul saron, warisan budaya ini akan terus hidup dan bergema, dari kelas hingga ke panggung-panggung kebudayaan di luar sana.

Pengumuman

Tes Kemampuan Akademik
Ujian Sekolah Daring
Ujian Sekolah Daring

Agenda Sekolah

TES KEMAMPUAN AKADEMIK
HARI KESAKTIAN PANCASILA
PSTS GASAL 2025-2026
MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman